YOGYA (KRjogja.com) - Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Musik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dalam waktu dekat akan segera merilis album terbarunya. Album yang telah digarap sejak tahun 2008 tersebut diberi judul The Journey, A Compilation Album Of UKM Musik UMY, dan akan dilaunching pada Januari 2010.
Tim Promosi dan Produksi Album The Journey, Elhuda mangungkapkan, tujuan awal dibuatnya album ini adalah untuk mendokumentasikan karya-karya anggota UKM Musik UMY. Sebab, dalam praktek kegiatan yang diadakan oleh UKM ini, seringkali banyak karya musik yang tidak
terdokumentasikan.
"Pada perkembangan selanjutnya, tujuan dirilisnya album ini juga sebagai sebuah bentuk apresiasi terhadap banyaknya genre musik yang berkembang di kalangan pemusik indie. Ini sekaligus juga menegaskan keberagaman jenis musik yang kita miliki dan tak hanya berkutat pada aliran pop maupun Melayu," tuturnya di Yogyakarta, Senin (28/12).
Ia menerangkan, dalam album The Journey disajikan musik dengan berbagai aliran/genre. Mulai dari pop, rock, regge, alternatif, rock and roll, underground dan lain sebagainya. Lagu yang disuguhkan berjumlah 14 buah yang merupakan hasil karya dari 14 band mahasiswa UMY.
Keempatbelas band tersebut adalah Dream Society, Lain Dunia, Orkes Sehat Jiwa CRP, Devina, Cosca, Garis Tepi, In-Potent, Newskin, Orochi, Got Me Blind, Rasio, Doraemon Kills Hulk, De’Sister’s, dan Arul.
”Perlu diketahui pula, semua band dari UKM Musik UMY ini, mulai dari yang paling tua De’sister’s hingga yang termuda Doraemon Kills Hulk dan beberapa band lainnya sudah menjadi band yang terkenal di tataran band indie Yogyakarta,” ujarnya.
Huda menjelaskan, The Journey adalah album swadaya UKM Musik UMY. Dimana semua proses produksi mulai dari penciptaan dan pengumpulan materi lagu, recording, editing, hingga pembuatan cover semua dikerjakan secara mandiri.
"Recording kami kerjakan di studio UKM dan beberapa rumah kos anak-anak UKM. Dengan berbagai kemajuan teknologi yang ada sekarang, kami cukup dipermudah dalam mengerjakan proses rekaman. Pengerjaan ide menjadi sebuah karya, penggarapan cover dan lain sebagainya juga kami lakukan sendiri," ungkapnya.
Mengenai target penjualan album, Huda mengaku bahwa Tim Produksi tidak menargetkan penjualan album yang tinggi. "Sesuai dengan tujuannya, album ini adalah sebagai bentuk dokumentasi atas karya-karya mahasiwa UMY dan apresiasi terhadap multi genre di dunia permusikan Indonesia. Sehingga kami nggak terlalu 'ngoyo' untuk jualan,” tandasnya. (Ran)
Selasa, 20 April 2010
Komunitas Indie Bandung Luncurkan Album Rock
Antusias komunitas indie yang memenuhi kapasitas lokasi acara sekitar 3.000 orang tampak terlihat dari suasana melebur kendati penuh sesak dan tanpa menyisakan sedikitpun ruang kosong.
Acara tersebut merupakan acara peluncuran album kompilasi terbaru band indie yang digawangi band beraliran rock n roll yaitu The Sigit yang juga diisi pula grup band indie lainnya.
Hal menarik adalah pengunjung acara tersebut ternyata tidak hanya dari Bandung, Komunitas Indie Jogjakarta dan Semarang juga hadir di acara tersebut. Telebih lagi banyak juga para pengunjung yang datang dari Jakarta.
Selain itu antusiasme terlihat jelas walaupun tiket masuk dipatok dengan harga Rp20.000,- namun, tidak menyurutkan anak-anak komunitas indie tersebut.
Acara tersebut dimulai pada pukul 20.00 WIB tetapi antusias ribuan anak muda sudah memenuhi kawasan Eldorado dan sekitar Jalan Setiabudhi yang macet total.
Tidak kalah juga menarik adalah pada acara tersebut walaupun menyajikan band yang beraliran cukup keras dengan alunan rock n roll tetapi para pengunjung tidak diperkenankan untuk merokok apalagi minuman keras.
The Sigit band indie yang mandiri tanpa mempergunakan label rekaman musik yang terkenal atau sudah besar. The Sigit telah berdiri selama enam tahun di pentas musik indie Indonesia dan merupakan band asli dari bandung.
Band tersebut digawangi oleh empat orang yaitu Farry Ichsan (gitaris), Recti (Vokalis), Adit (Basis), dan Donar armand (Drumer).
"Ini merupakan album kedua kami berjudul dyslexia terdiri dari 11 lagu, percampuran antara lagu baru dan lagu lama, dan semua lagu mempergunakan bahasa Inggris," kata Farry selaku gitaris.
Diakui mereka telah manggung sebanyak 300 kali di Kota Bandung dan ini yang ke-301. belum termasuk di daerah lain seperti Jogja, semarang, Medan, Balikpapan, dan lainnya, ujar Recti (vocalis).
Recti menjelaskan bahwa sulit sekali mempertahankan band dengan status indie, karena dari segi materi band indie tidak banyak menghasilkan uang. Tetapi karena kecintaan akan bermusik maka terus semangat. (*)
COPYRIGHT © 2009
EMI Music Gugat Hi5 dan YouTube
Berita terhangat datang dari EMI Music, salah satu perusahaan pemegang label musik terbesar yang berkantor pusat di London, Inggris, yang sudah tersohor tidak hanya di Indonesia, namun juga di dunia. EMI telah mengajukan tuntutan ke pengadilan atas pelanggaran hak yang dilakukan oleh Hi5, VideoEgg, dan sepuluh terdakwa John Doe. Inti dari gugatan EMI adalah penyalahgunaan content EMI yang berlebihan pada Hi5, khusunya musik video.
Sebelumnya, EMI masih tetap berlaku sebagai penggugat, telah mengajukan tuntutan kepada AllofMP3, YouTube, Apple, MP3Tunes, XM Radio, Infospace, dan bahkan The Beatles. Salah seorang sumber dari EMI mengungkapkan, pihak yang digugat sudah melakukan negosiasi dengan pihak EMI setelah EMI mengajukan gugatan. Namun, hingga sekarang, mereka tidak pernah mencapai kesepakatan dengan EMI dan EMI pun belum memberikan konfirmasi lebih lanjut kepada pers. Hal ini dikarenakan pihak EMI ingin menegakkan peraturan atas haknya sebagai pemegang lisensi termasuk musik video dan berhak untuk mengurangi pembajakan lagu yang berlebihan, yang telah merugikan EMI selama ini.
Seperti contohnya, VideoEgg, sebuah situs yang menyediakan fungsi video kepada Hi5 di masa lalu, namun perjanjian dengan EMI baru berakhir pada bulan April 2008 dan kemudian mereka tidak bekerja sama lagi. Fakta bahwa EMI memasukkan VideoEgg dalam daftar terdakwa, menunjukkan bahwa EMI sangat peduli dengan adanya pelanggaran hak cipta, dan pihak EMI hanya ingin VideoEgg membayar segala hal yang ada dalam perjanjian yang terjadi sebelum berakhir di bulan April 2008.
Pihak VideoEgg mengungkapkan bahwa VideoEgg telah memenuhi segala permintaan dari DCMA (Defense Contract Management Agency), namun tidak pernah menerima dari EMI. VideoEgg juga menggunakan AudibleMagic, yang dapat mengidentifikasi dan secara proaktif akan menghapus material musik yang berupa copyrighted material.(h_n)
Sebelumnya, EMI masih tetap berlaku sebagai penggugat, telah mengajukan tuntutan kepada AllofMP3, YouTube, Apple, MP3Tunes, XM Radio, Infospace, dan bahkan The Beatles. Salah seorang sumber dari EMI mengungkapkan, pihak yang digugat sudah melakukan negosiasi dengan pihak EMI setelah EMI mengajukan gugatan. Namun, hingga sekarang, mereka tidak pernah mencapai kesepakatan dengan EMI dan EMI pun belum memberikan konfirmasi lebih lanjut kepada pers. Hal ini dikarenakan pihak EMI ingin menegakkan peraturan atas haknya sebagai pemegang lisensi termasuk musik video dan berhak untuk mengurangi pembajakan lagu yang berlebihan, yang telah merugikan EMI selama ini.
Seperti contohnya, VideoEgg, sebuah situs yang menyediakan fungsi video kepada Hi5 di masa lalu, namun perjanjian dengan EMI baru berakhir pada bulan April 2008 dan kemudian mereka tidak bekerja sama lagi. Fakta bahwa EMI memasukkan VideoEgg dalam daftar terdakwa, menunjukkan bahwa EMI sangat peduli dengan adanya pelanggaran hak cipta, dan pihak EMI hanya ingin VideoEgg membayar segala hal yang ada dalam perjanjian yang terjadi sebelum berakhir di bulan April 2008.
Pihak VideoEgg mengungkapkan bahwa VideoEgg telah memenuhi segala permintaan dari DCMA (Defense Contract Management Agency), namun tidak pernah menerima dari EMI. VideoEgg juga menggunakan AudibleMagic, yang dapat mengidentifikasi dan secara proaktif akan menghapus material musik yang berupa copyrighted material.(h_n)
Merekam Gelora 'Indie'
Kencangkan sabuk pengaman. Anda akan bertamasya ke dunia yang sama sekali lain. Sebuah jagat majalah terbitan anak muda zaman sekarang yang betul-betul jauh dari tertib jurnalistik. Majalah yang punya jurus kritis tapi juga bodor, segar, dan cenderung seenak gue, kocak lagi nyentrik. Majalah "indie" (diambil dari kata "independen", karena tidak disokong dana oleh penerbitan besar) ini memang edan. Tata letak keren, sarat eksperimen, dan tidak jarang ruwet sampai bikin bingung. Semua artikel ditulis dengan bahasa gaul gado-gado, slank campuran Inggris-Indonesia, semisal awrite (all right), bro (brother), dan begowl (bergaul). Pendeknya, kosakata yang ada di majalah indie ini bakal membuat para pembaca majalah konvensional merasa sudah uzur. Topik tulisan yang dimuat cukup beragam, dari sejarah musik jazz, sejarah perbudakan, asal-muasal pionir kelompok musik punk The Sex Pistols, sampai artikel ringan tentang "burket" atawa bubur ketek. Seluruhnya diramu dengan gaya terjun bebas. Ada artikel yang belum tuntas dan hanya dipungkasi dengan kalimat "Udahan ya, gue males nih". Artikel lainnya diawali dengan umpatan "anjing" yang dipelesetkan menjadi "anjirrr". Pengantar redaksi pun tidak kalah seru: maap, so bloody sorry karena terlambat terbit. Jurus nyentrik habis tersebut sukses memikat anak-anak muda. Ripple Magazine, misalnya, bermula pada tahun 1999. Kala itu Ripple hanya berupa katalog produk-produk busana yang dipajang di distro (distribution outlet, toko independen yang menjajakan barang-barang indie) 347, Bandung. Isi katalog pun makin gurih dengan liputan aktivitas gaya hidup seperti papan luncur (skateboard), selancar, serta dinamika komunitas punk yang ada di pojok-pojok Bandung. Ripple kian berwarna dengan adanya ulasan musik, juga laporan pertunjukan berbagai band indie label yang memang sedang marak di Bandung. The Milo, Mocca, KOIL, Rocket Rockers, Superman Is Dead adalah contoh band indie yang melejit namanya setelah diulas oleh Ripple. "Secara enggak sadar, kita ikut mempengaruhi perkembangan musik indie di negeri ini," kata Noor al-Kautsar, 24 tahun, Redaktur Senior Ripple. Sampai kini, menurut Noor, tidak kurang dari seribu contoh rekaman yang sudah dikirim berbagai band indie kepada redaksi Ripple. Pamor Ripple pun tambah mencorong. Oplah yang 5.000 di awal terbitan terus melonjak hingga 10 ribu eksemplar. Padahal, harganya berangsur menanjak dari Rp 3.500, Rp 6.500, hingga kini jadi Rp 20.000 per buah. Wilayah peredaran pun telah meluas meliputi Jawa, Bali, Sumatera, dan Kalimantan. Sejatinya, Ripple bukan pemain pertama di ladang media indie. Pada tahun 1999, telah terbit Trolley—antara lain diawaki Dewi "Supernova" Lestari—yang membidik pasar komunitas anak muda pencinta musik dan seni rupa. Sayang, napas Trolley tidak panjang dan berstatus almarhum setelah beberapa kali terbit. Esa hilang, dua terbilang. Berhentinya Trolley disusul terbitnya majalah-majalah indie lain dengan napas serupa. Dari Yogyakarta, muncul Outmagz dan Blank! yang membidik pasar pencinta desain grafis, musik, dan seni rupa. Lalu ada Pause dan Retas Magazine (Bandung), MTeens Magazine (Medan), dan Sinkink (Solo). Sesuai dengan predikat yang disandang, majalah indie lebih menge- depankan semangat mandiri. Spirit kebebasan inilah yang amat jitu memikat jiwa-jiwa muda. Media independen pun kemudian menjelma menjadi bagian dari gaya hidup anak muda yang berkarakter cenderung pemberontak. "Ini yang gue cari," tutur Anne sembari membolak-balik halaman Outmagz. "Isinya gak kayak majalah remaja lain yang cuma tahu Britney Spears dan Westlife," kata pelajar SMU di Jakarta Selatan ini. Soal bisnis, media independen memang unik. Hitung-hitungan bisnis—balik modal, untung-rugi—yang konvensional tidak bisa sepenuhnya berlaku. Ripple, umpamanya, sampai kini belum bisa menggaji awak redaksinya dengan layak. "Masih di bawah upah minimum regional," kata Noor al-Kautsar sembari terbahak. Maklumlah, media indie menekankan prinsip dasar DIY (do it yourself), dari hulu sampai hilir, yang boleh jadi tidak ekonomis. Segalanya dikerjakan sendiri dengan melibatkan jaringan kalangan indie, misalnya iklan dari band indie, di- pasarkan di outlet distro, juga di- promosikan pada bazar dan perhelatan kaum indie. Denny Sitohang, 29 tahun, adalah contoh gamblang penerapan prinsip do it yourself. Pemimpin Redaksi MTeens Magazine di Medan ini menguras tabungannya senilai Rp 5 juta untuk mewujudkan mimpi majalah indie. Ditemani seperangkat komputer pribadi, Denny menulis, menyun-nting, juga merancang tata letak MTeens. "Nekat aja," kata pemuda yang kupingnya berhias anting ini. Untunglah, kenekatan Denny berbuah. Kendati belum meraup untung, setidaknya ongkos operasional MTeens tidak lagi tambal sulam. Soal isi majalah, Denny lebih banyak mengandalkan jaringan di antara pelajar dan mahasiswa di Medan. "Saya sediakan medianya, silakan mereka manfaatkan," kata Denny. Hasilnya, MTeens menjadi media khas anak muda Medan. Denyut gerak orang-orang muda di kota ini terekam di dalam majalah yang dijual Rp 6.000 per buah dengan oplah 3.000 eksemplar ini. Walhasil, setiap bulan kehadiran MTeens pun selalu dinanti jejaka dan gadis Medan. MTeens, juga segenap majalah indie, memang punya karakter pasar yang mirip-mirip. Mereka membidik target pasar usia 15-20-an tahun yang cenderung memberontak, anak muda yang tak mau terkungkung aturan kaku, anak muda yang begitu ingin berenang-renang dalam lautan ide. Mereka kalangan yang tampaknya tidak ter- wakili oleh gaya konvensional yang di- tawarkan majalah remaja pada umumnya. Noor al-Kautsar menegaskan karakter komunitas indie. "Maaf saja," tuturnya, "Hai, Gadis, atau Kawanku enggak cocok buat kami-kami." Redaktur Ripple ini memandang media konvensional semata-mata mencekoki remaja dengan selera konsumtif yang dipaksakan industri hiburan global. Pada titik inilah majalah indie membawa misi menyajikan gagasan-gagasan alternatif. Tengoklah Outmagz edisi ke-2, yang menyuguhkan gambar-gambar aneh karya Jake & Dinos Chapman. Kedua perupa dari Inggris ini bereksperimen membuat boneka manusia berbahan fiber dengan anatomi yang superliar. Ada yang berkepala dua, ada yang perutnya berdempetan, yang lainnya punya selusin badan lantaran manipulasi genetis. "Karya ini bukanlah mengagungkan penyimpangan, tetapi se- kadar mengeksplorasi berbagai kemungkinan bentuk yang tiada habisnya," demikian ditulis Outmagz. Sajian visual yang diusung media indie pun pasti lain dan nyeleneh. "Sesuatu yang tidak bakal dijumpai pada media konvensional," kata Sigit Djatmiko, Redaktur Outmagz. Untuk gadis sampul, umpamanya, Outmagz lebih memilih gadis bertampang "tetangga sebelah" yang kita lihat sehari-hari. Sosok model, yang biasanya nyaris seragam—tinggi, kurus langsing, dan cantik sempurna—justru tak laku di sini. Dan jurus biasa-biasa inilah yang mendekatkan Outmagz dengan anak-anak muda pembacanya. Simaklah komentar Andri, pelajar SMU di Yogyakarta: "Gue suka banget sama Outmagz. Abis, isinya deket banget ama yang kita saksiin sehari-hari." Media independen tumbuh subur di berbagai kota. Kebebasan yang mereka suarakan cukup jitu memikat jiwa-jiwa muda
Kabar Panggung
Sheila on 7 Tampil di Prambanan
05 Dec 2009
SEBANYAK 20 grup band indie yang ada di Yogyakarta akan tampil di Prambanan 2009 Music Indie and Fans, di pelataran Candi Prambanan, 13 Desember mendatang.Beberapa band indie yang akan tampil adalah Long Distance, Lost, Dream Society, The Sign, Mr Je, Miles to Go , Savior, Sister Morphin, Resque, Urban Village, Monstone, Jagostu, dan Sheila on 7.
Puncak acara pesta band indie itu menampilkan grup Sheila on 7 yang dimotori Duta dan kawan-kawan.
Kepala Unit Taman Wisata Candi Prambanan Joko Sutono menjelaskan pesta band indie itu, selain untuk mempromosikan wisata, menunjukkan geliat band indie di Yogyakarta yang makin marak.
Joko optimistis penampilan Sheila on 7 bisa menyedot sekitar 15 ribu penonton sekaligus penggemar dari Yogyakarta dan Jawa Tengah. Pesta musik ini juga bagian dari agenda akhir tahun. (Ant/M-6)
Puncak acara pesta band indie itu menampilkan grup Sheila on 7 yang dimotori Duta dan kawan-kawan.
Kepala Unit Taman Wisata Candi Prambanan Joko Sutono menjelaskan pesta band indie itu, selain untuk mempromosikan wisata, menunjukkan geliat band indie di Yogyakarta yang makin marak.
Joko optimistis penampilan Sheila on 7 bisa menyedot sekitar 15 ribu penonton sekaligus penggemar dari Yogyakarta dan Jawa Tengah. Pesta musik ini juga bagian dari agenda akhir tahun. (Ant/M-6)
Indie, Kini Sudah jadi Industri
KapanLagi.com - Musik bisa dikatakan jadi ujung tombak berkembangnya komunitas indie. Sudah lama kita mendengar tentang band-band yang bergerak sendiri, untuk memproduksi dan mengedarkan album mereka, yang biasa disebut pergerakan underground. Angkanya memang tidak besar jika dibandingkan dengan ST 12 atau Padi. Tetapi, angka 50 ribu kopi untuk album indie sudah sangat bagus.
Makin lama, dukungan terhadap indie pun semakin besar. Terbukti dengan masuknya Mocca, The Changcuters, dalam deretan grup yang mendapatkan award dari MTV. Stasiun TV yang fokus pada musik itu pun, memberikan tempat yang cukup besar bagi musik yang bergerak dengan semangat indie. Tak ketinggalan, sejumlah radio ikut menyediakan segmen khusus bagi musisi-musisi lokal.
Bahkan kini sedang trend sebuah talent search berlabel festival indie, yang dilakukan beberapa produk rokok sebagai ajang kompetisi bisnis. Yang paling mutakhir adalah, seorang Ahmad Dhani yang rela berduet dengan band indie, demi mendongkrak penjualan albumnya.
Jika kita cermati, semangat indie yang sebenarnya sebuah budaya anti trend, kini telah disulap menjadi trend baru, sebuah konsekuensi logis dari perkembangan industri musik yang kian cepat secara kuantitas, tapi tidak secara kualitas. Berikut ini beberapa aspek yang disadari atau tidak telah bergeser dari semangat indie, menjadi trend yang diminati banyak orang.
Propaganda
Perkembangan hebat ini kemudian diikuti oleh elemen lain yang sangat menunjang. Salah satunya adalah media cetak. Untuk menunjang promosi, biasanya band membuat newsletter untuk memberitakan perkembangan bandnya. Berawal dari selembar kertas fotokopian, lalu mulai dicetak tipis, dan akhirnya bermunculanlah majalah-majalah yang tampilannya tak kalah keren dibandingkan dengan media cetak mapan.
Kota-kota penghasil media cetak indie adalah Bandung dengan Ripple-nya, Yogyakarta yang punyaOutmagz dan Medan dengan M-teens, misalnya. Belum lagi yang berupa newsletter dengan kemasan lebih rapi seperti 10.05 (ten o' five) yang dibagikan gratis.
Awalnya media cetak tersebut adalah ajang untuk propaganda. Tetapi, sekarang sudah berubah jadi bacaan yang bisa kita nikmati dan menambah wawasan kita.
Fashion
Indie tetap memperhatikan penampilan, tetapi dengan satu syarat: harus beda dengan yang lain. Syarat tersebut membuat mereka mendesain pakaian sendiri, biasanya berupa t-shirt, yang berbeda dengan rancangan orang lain. Walau sederhana, hanya mengandalkan kekuatan kata dan gambar pada kaus, ternyata desain mereka bisa memancing minat para pencinta fashion. Biasanya tiap desain dibuat dalam jumlah kecil. Paling banyak satu desain hanya diproduksi 10 potong. Perkembangan usaha ini makin menjamur. Puluhan merek bermunculan. Clothing tidak hanya memproduksi t-shirt, tetapi juga berbagai aksesori, seperti belt, handband, sepatu, sampai boxer.
Makin hari, persaingan semakin ketat. Dalam persaingan ini yang utama adalah ide. Semakin unik dan fresh, clothing tersebut bakal makin dicari.
Banyak produk bersemangat indie dihasilkan, tetapi sedikit tempat yang bisa menjualnya. Karena keterbatasan dana, mereka kesulitan masuk ke toko-toko buku besar. Akhirnya, dibangunlah sistem distribusi yang memanfaatkan jaringan pertemanan. Sampai akhirnya ada sebuah solusi untuk hal ini, yaitu 'distribution outlet' yang lebih dikenal dengan sebutan distro. Biasanya bermula dari menjual produk-produk mereka sendiri, kemudian berkembang banyak yang menitipkan barang untuk dijual di situ.
Makin lama, dukungan terhadap indie pun semakin besar. Terbukti dengan masuknya Mocca, The Changcuters, dalam deretan grup yang mendapatkan award dari MTV. Stasiun TV yang fokus pada musik itu pun, memberikan tempat yang cukup besar bagi musik yang bergerak dengan semangat indie. Tak ketinggalan, sejumlah radio ikut menyediakan segmen khusus bagi musisi-musisi lokal.
Bahkan kini sedang trend sebuah talent search berlabel festival indie, yang dilakukan beberapa produk rokok sebagai ajang kompetisi bisnis. Yang paling mutakhir adalah, seorang Ahmad Dhani yang rela berduet dengan band indie, demi mendongkrak penjualan albumnya.
Jika kita cermati, semangat indie yang sebenarnya sebuah budaya anti trend, kini telah disulap menjadi trend baru, sebuah konsekuensi logis dari perkembangan industri musik yang kian cepat secara kuantitas, tapi tidak secara kualitas. Berikut ini beberapa aspek yang disadari atau tidak telah bergeser dari semangat indie, menjadi trend yang diminati banyak orang.
Propaganda
Perkembangan hebat ini kemudian diikuti oleh elemen lain yang sangat menunjang. Salah satunya adalah media cetak. Untuk menunjang promosi, biasanya band membuat newsletter untuk memberitakan perkembangan bandnya. Berawal dari selembar kertas fotokopian, lalu mulai dicetak tipis, dan akhirnya bermunculanlah majalah-majalah yang tampilannya tak kalah keren dibandingkan dengan media cetak mapan.
Kota-kota penghasil media cetak indie adalah Bandung dengan Ripple-nya, Yogyakarta yang punyaOutmagz dan Medan dengan M-teens, misalnya. Belum lagi yang berupa newsletter dengan kemasan lebih rapi seperti 10.05 (ten o' five) yang dibagikan gratis.
Awalnya media cetak tersebut adalah ajang untuk propaganda. Tetapi, sekarang sudah berubah jadi bacaan yang bisa kita nikmati dan menambah wawasan kita.
Fashion
Indie tetap memperhatikan penampilan, tetapi dengan satu syarat: harus beda dengan yang lain. Syarat tersebut membuat mereka mendesain pakaian sendiri, biasanya berupa t-shirt, yang berbeda dengan rancangan orang lain. Walau sederhana, hanya mengandalkan kekuatan kata dan gambar pada kaus, ternyata desain mereka bisa memancing minat para pencinta fashion. Biasanya tiap desain dibuat dalam jumlah kecil. Paling banyak satu desain hanya diproduksi 10 potong. Perkembangan usaha ini makin menjamur. Puluhan merek bermunculan. Clothing tidak hanya memproduksi t-shirt, tetapi juga berbagai aksesori, seperti belt, handband, sepatu, sampai boxer.
Makin hari, persaingan semakin ketat. Dalam persaingan ini yang utama adalah ide. Semakin unik dan fresh, clothing tersebut bakal makin dicari.
Banyak produk bersemangat indie dihasilkan, tetapi sedikit tempat yang bisa menjualnya. Karena keterbatasan dana, mereka kesulitan masuk ke toko-toko buku besar. Akhirnya, dibangunlah sistem distribusi yang memanfaatkan jaringan pertemanan. Sampai akhirnya ada sebuah solusi untuk hal ini, yaitu 'distribution outlet' yang lebih dikenal dengan sebutan distro. Biasanya bermula dari menjual produk-produk mereka sendiri, kemudian berkembang banyak yang menitipkan barang untuk dijual di situ.
Ajang Kompilasi Musik Indie
Musik indie, yang mengutamakan kebebasan berekspresi dari jenis-jenis musik yang mainstream atau cenderung menjadi trend berkat kekuatan industri memang beragam. Tidak semua beraliran keras. Ragamnya musik indie disuguhkan oleh 12 finalis "LA Lights Indiefest" yang karya musiknya telah tergabung dalam album kompilasi yang beredar mulai pekan depan. Secar langsung, keragaman musik indie itu terlihat dalam showcase yang diselenggarakan di Cihampelas Walk pada Sabtu (10/20) sore dan malamnya di Gedung Asia Africa Cultural Center, Jl. Braga Bandung.
Vincent Vega membuka penampilan LA Lights Indiefest di AACC tepat pukul 20.15 WIB dengan lagu Shane. Penampilan Vincent Vega itu dilanjutkan dengan penampilan band indie papan atas yang sebelumnya sudah membuat album, yaitu Mocca.
Setelah itu, acara dilanjutkan dengan penampilan DRinos. Band indie asal Bekasi ini menyuguhkan musik degan irama khas tahun 70an. Mereka membawakan lagu diantaranya "Beri Waktu Seminggu". Lalu tampil Pollyester Embassy yang mengusung aliran musik hardcore. Tampil dengan musik yang banyak di warnai distorsi dan sound effect, Pollyester Embassy membawakan tiga buah lagu dari album mereka yang telah dilepas pada november 2005 lalu, "Tragicomedy."
Selanjutnya muncul Hollywood Nobody. Dengan musik gaya bossanova, mereka menampilkan lagu yang sudah dibuat video klipnya, "Kiss The Pain Away". Hollywood nobody merupakan satu-satunya band yang lagunya dibuatkan video klip pada ajang "LA Lights Indiefest" ini.
Acara yang cukup memperoleh sambutan penonton ini akhirnya ditutup dengan penampilan dari grup The SIGIT. Mereka menampilkan beberapa lagu dari album terakhir mereka "Visible Idea of Perfection". Secara keseluruhan, penampilan band-band indie mampu menyulut antusiasme penonton denga karya-karya mereka, terutama band-band indie papan atas. Namun sayangya, acara yang ditonton sekitar 400 penonton ini sedikit terganggu oleh kualitas sound yang menyebabkan sedikit gangguan teknis di atas panggung. Selain 400 orang yang menonton di dalam gedung AACC, acara ini juga ditonton melalui fasilitas big screen. sekitar 300 penonton cukup terhibur di luar gedung AACC.
Sementara itu pada show di Ciwalk sore harinya telah tamil Lovely Tea, Airport Radio, dan band lain yang ada di album kompilasi LA Lights Indiefest. Kedua belas band ini telah terpilih dari 1400an band yang diaudisi sejak Maret 2006 di Yogyakarta, Bandung, dan Surabaya. audisi dari Bandung telah meloloskan enam Band yang karyanya masuk dalam album, yaitu C Cord, D Rinos, Pegawai Negeri, 70s Orgasm Club, Vincent Vega, dan Hollywood Nobody yang karyanya bertajuk "Kiss The Pain Away" telah dibuatkan videoklipnya.
Menurut Helvi Sjarifuddin, pemilik FastForward Records yang menangani sejak seleksi awal sampai pembuatan albumnya, masih ada video klip yang dibuat. Namun ia belum bisa menyebutkan band apa saja yang akan diproduksi videoklipnya.
Langganan:
Postingan (Atom)